Aku menatap nona ini dengan prihatin dalam tidur pulasnya, matanya sembab menangisi tuannya. Pundak dan perutku pun masih lembab menampung air mata gadis cantik yang sejak dulu kucintai.
“Tidurlah dengan pulas gadisku, lupakan ia atau luapkan saja rasamu. Aku yakin ia juga mencintaimu,” ucapku tanpa suara diantara kesunyian malam dan gelapnya kamar. Ah andai saja aku bisa mengusap kepalanya
saat ini, pasti sudah kulakukan.
saat ini, pasti sudah kulakukan.
Beberapa menit yang lalu ia terlihat baik-baik saja, bahkan masih bisa tersenyum ke arah ibunya yang tengah bercengkrama dengan ayahnya. Aku yang sedari tadi memperhatikan dari kamar, melihat Nona gelisah dalam duduknya. Beberapa kali ia melihat ke layar handphone, kemudian mematikannya kembali seraya menghela nafas panjang sampai akhirnya ia terlihat bosan dan beranjak menuju kamarnya.
Setelah menutup dan mengunci pintu kamar ia menatapku dengan wajah sendunya, seakan ingin mengadu. Dengan lemas Nona hempaskan tubuh lelahnya ketempat tidur kemudian menggapai tanganku dan memeluk dengan hangat, “Aku merindukannya, Monok.” Itulah kata pertama yang keluar dari bibirnya yang bergetar, seakan ia menahan sesuatu dalam tenggorokannya . Ya, rindunya hampir tumpah. Sesaknya tak lagi tertahankan. Terlihat jelas dari matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kau pasti sedang merindukan pria itu. Pria yang membuatmu mendekapku dengan erat sambil tersenyum dan memukulku kasar dengan kesal. Aku tidak tahu, siapa yang salah antara kau, dia dan semesta. Apakah salah ia yang membuatmu begitu mencintainya, walaupun ia sering mengecewakan ? Apakah salah dirimu sendiri yang terlalu mudah menjatuhkan hati kepadanya tapi hanya bisa diam ketika dikecewakan ? Atau salah Semesta –yang mempertemukan kalian berdua? Ah, dalam sudut pandangku sebagai Bonekamu, hanya kau yang benar. Toh aku hanya boneka yang tak tahu menahu perihal cinta, yang ku tahu aku hanya ingin melihatmu bahagia. Itu saja.
Diantara air mata yang berjatuhan Nona menggapai handphonenya dan mengetik sebuah nama, melihat kontak pria itu. Tapi ia menutup handphonenya lagi seraya memendam kepalanya dalam perut empukku diiringi deras tangis. Berulang kali ia melihat kontak dan kembali menutupnya seakan ada pergulatan hebat dalam dirinya, pertengkaran antara otak dan hatinya.
Nona menjauhkan handphone dari dirinya dan menangis lebih deras sampai kantuk hinggap dan lelap merayap. Tertidur dalam tangis yang masih membasahi mata dan pipinya. Aku sama sekali tak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini, yang ku tahu otak baru saja memenangkan argumentasi dan membuat hati teriris, menjadikan gadis ini menangis. Lirih dan pedih.
0 komentar:
Posting Komentar