Mungkin, karena terlalu mengandalkan logika.
Maka, yang sekalinya tak kutemui jalan keluar, aku lelah sendiri.
Terpuruk pada pojokkan di sudut hitam tanpa cahaya.
Lalu, sudah banyak waktu yang kulewatkan dengan keacuhanku.
Ketika ketidakpedulian membuatku banyak melewatkan banyak hal.
Ada beberapa hal yang tak kusapa, karena diriku yang terlalu sibuk sendiri.
Ada tanggung jawab didepan sana yang sebenarnya sudah menyapaku jauh-jauh hari.
Aku abaikan, aku asyik dengan logika yang ternyata berakhir buntu.
Dalam hitungan hari semuanya sudah akan menuntut.
Tapi, dayaku masih tertinggal dengan sebuah angan yang dilepaskan.
Esok, aku berharap kulihat silauan mentari.
Agar aku benar-benar tersadar, aku terbangun dengan meniti kembali dunia.
Jika perlu caci maki saja aku, agar logika tak beraturan ini pergi menjauh.
Sudah berapa orang yang kukecewakan karena aku terlalu terfokuskan pada seseorang.
Kulupakan sapaan, kulupakan ajakan, sampai kulupakan diriku sendiri.
Jiwaku kacau, ruangan yang kudiami tak kalah kacau dariku.
Ada kata yang mesti kuhafal, ada angka yang mesti kuperhitungkan.
Bukan lagi harus tentang logikaku yang tak beraturan.
Ada hati yang harus kutenangkan, harus kuajak kembali bersandar ke sisi-Nya yang paling tenang.
Maka, yang sekalinya tak kutemui jalan keluar, aku lelah sendiri.
Terpuruk pada pojokkan di sudut hitam tanpa cahaya.
Lalu, sudah banyak waktu yang kulewatkan dengan keacuhanku.
Ketika ketidakpedulian membuatku banyak melewatkan banyak hal.
Ada beberapa hal yang tak kusapa, karena diriku yang terlalu sibuk sendiri.
Ada tanggung jawab didepan sana yang sebenarnya sudah menyapaku jauh-jauh hari.
Aku abaikan, aku asyik dengan logika yang ternyata berakhir buntu.
Dalam hitungan hari semuanya sudah akan menuntut.
Tapi, dayaku masih tertinggal dengan sebuah angan yang dilepaskan.
Esok, aku berharap kulihat silauan mentari.
Agar aku benar-benar tersadar, aku terbangun dengan meniti kembali dunia.
Jika perlu caci maki saja aku, agar logika tak beraturan ini pergi menjauh.
Sudah berapa orang yang kukecewakan karena aku terlalu terfokuskan pada seseorang.
Kulupakan sapaan, kulupakan ajakan, sampai kulupakan diriku sendiri.
Jiwaku kacau, ruangan yang kudiami tak kalah kacau dariku.
Ada kata yang mesti kuhafal, ada angka yang mesti kuperhitungkan.
Bukan lagi harus tentang logikaku yang tak beraturan.
Ada hati yang harus kutenangkan, harus kuajak kembali bersandar ke sisi-Nya yang paling tenang.
0 komentar:
Posting Komentar