Aku tak pernah membayangkan akan berada jauh di posisi ini. Berada pada situasi aku dan kamu saling asing satu sama lain. Tidak lagi saling mengenal, menyapa, ataupun merindu.
Aku tak pernah membayangkan jika saat i ni akan terasa jauh dan begitu beku, tanpa kamu. Diam dalam sebuah masalah yang tak akan pernah kamu tahu. Bahkan tak pernah kamu gubris.
Aku, wanita dungu yg begitu dalam mencintaimu. Wanita gila yang tak pernah sakit hati atas ingkarnya janjimu yg tak pernah kamutepati. Wanita egois, yg
ingin tahu semua kehidupanmu, masalahmu, bebanmu, bahkan rasamu...
Tapi kusadari satu hal, aku hanya orang asing yg ingin sekali mengetahui semua seluk beluk kehidupanmu. Walau ku tahu, kamu tak akan pernah memberikan celah sedikitpun untuk itu.
Salahkah jika aku terlalu mempedulikanmu ? Terlalu khawatir akan keadaanmu ? Kamu bilang, kamu tidak ingin membebani pikiranku dengan masalahmu. Kamu bilang kamu tidak ingin membuatku khawatir akan masalah yang kamu hadapi. Kamu salah.
Tidak pernahkan kamu berfikir bagaimana aku yg selalu bertanya tanya masalah apa yg sedang kamu hadapi ? Tidak pernah kah kamu tahu begitu sakit rasanya ketika kamu memilih untuk pergi dan menghilang menghadapi semua beban yg kamu pikul, sendiri ? Lantas aku ? Aku kamu anggap sebagai sosok perempuan yang hanya menginginkan tubuhmu berada di sampingku, tidak peduli akan apa yg sedang kamu hadapi. Sejahat itukah aku bagimu ? Sekejam itukah aku dimatamu ?
Akupun ingin menjadi sosok yang bisa kamu andalkan dalam hal apapun. Akupun ingin menjadi pendengar terbaik yang mendengarkan semua keluh kesahmu. Akupun ingin kamu jadikan sandaran yg paling kamu cari ketika tak ada lagi tempat untuk mengaduh. Tapi, itu hanya inginku. Semua tak bisa sama persis sesuai inginku.
Aku tak bisa berkata banyak. Air mataku ini begitu murah bila kujatuhkan untukmu. Sembabku ini seakan ikut bercerita betapa sakitnya hatiku mengetahui kenyataan yang ada, bahwa kamu lebih memilih mengadu dan bercerita dengan sahabatku, ketimbang aku. Kamu tahu yg lebih sakit ? Aku harus tahu semua masalahmu dari mulut sahabatku, bukan kamu. Tidak pernakah kamu membayangkan betapa perih dan sakit berada diposisiku ? Aku, yang katanya sebagai orang yg kamu sayang, nyatanya tak pernah tahu apapun.
Untuk kesekian kalinya, aku begitu hancur hanya karna kamu. Mungkin kamu tidak tahu, aku selalu berharap bahwa aku dan kamu bisa seperti dulu. Bisa hangat seperti dulu. Sekarang, untuk menyapa dengan dua huruf Hy saja, aku bingung harus memulainya darimana.
Apakah kamu tidak tahu, betapa sesak hatiku ketika di layar handphone ku tak ada satupun notifikasi darimu, sedangkan kamu bebas berkicau di sosial mediamu. Aku, aku yg sering kali menjatuhkan harga diriku berkali kali hanya untuk mendapat sapaan darimu. Hanya untuk agar tubuhku tersentuh oleh suaramu.
Lantas sekarang, malam ini kamu berjanji padaku tidak akan menggangguku lagi dan menghardikku dengan membuat status di media sosialmu kalau aku "perempuan yang tak bisa menahan egonya, dan setan yang membanjiri manusia dengan darah panasnya". Aku tahu status itu jelas kamu tujukan untukku. Tak usah mengelak. Akui saja. Apa yang kamu ucapkan memang benar. Dan aku memang seperti binatang, benar seperti yang temanmu berkomentar di statusmu. Kamu tahu, aku hancur. Aku tidak bisa lagi berkata, aku tak bisa lagi menahan tumpahnya air mata.
Malamku di penuhi oleh sesak2 yang selalu kamu ciptakan. Tangisku sebelum tidur, sembab mataku setelah bangun tidur, tak akan pernah kamu tahu. Untuk membayangkan rasanya jadi aku, aku rasa kamu tak akan mampu.
Terlalu banyak sakit yang kamu ciptakan. Dan aku, hanya bisa memaafkan kedaan. Aku mencintai dan membenci sosok yang berbeda pada satu orang yg sama.
Kamu memintaku untuk memulai semuanya dari awal. Tidak semudah saat kamu mengetik kalimat tersebut. Sakit yang terlanjur aku rasakan, sesak yang sudah kutahan tak dapat lagi aku pendam. Aku akan mengikuti sifat dan sikapmu, masa bodo pada semua hal. Termasuk aku. Begitupun aku. Akupun tidak akn mengemis cinta pada orang yang telah menghempaskan hatiku berkali kali. Yang telah menyayat hatiku yg hampir mati.
Semua terjadi atas kehendakmu. Satu bulan tanpa komunikasi, tanpa pertemuan. Tak cukup sabarkah aku menanti semua ini ? Tak cukupkah waktu sebulan untuk membuktikan bahwa akupun bisa sabar menantimu untuk memelukku lagi. Tak cukupkah bagimu untuk melihatku tersiksa lebih dalam, dan dalam lagi.
Kalau kamu sebut semua ucapanmu yang menyakitiku dianggap tidak pernah kamu ucapkan, anggaplah saja bahwa rasa sakitku ini tidak pernah kamu ciptakan. Anggaplah saja bahwa aku yang sengaja membuat hatiku terluka, membuat diriku tersiksa, karena harapanku yang terlalu tinggi melampaui semua ekspektasi. Katakanlah saat ini aku yang bersalah. Bukan kamu. Anggap saja aku ini wanita tolol yang hanya mengharapkan cinta tulus dari seorang pangeran di negeri dongeng.
Kamu tidak akan pernah tahu rasanya menjadi aku sebelum penyesalan datang dihidupmu. Aku akan mundur secara perlahan, berkali kali aku meredam semua egoku agar tetap di samping kamu, tp berkali kali juga kamu yang menyakitiku dengan perkataanmu. Sakit. Hanya itu yang bisa aku rasakan sampai detik ini.
Masalah kita tak akan jadi runyam seperti ini, jika dari awal kamu mencariku setelah aku hilang, menyapaku setelah aku diam, bercerita tanpa kutanya, tanpa paksaan. Dan jika kamu tidak sok kuat dan baik2 saja ketika aku bertanya dan ingin menutupi semuanya, kurasa saat ini, malam minggu ini kita pasti melepas rindu, aku bisa melihat tingkah konyolmu, melihat mata coklatmu, dan mengenyangkan perutmu dengan masakanku yang tak begitu enak.
Tentu aku tidak akan menjadi sosok yang hanya membuatmu muak dengan semua ocehanku. Dan tentu tak akan pernah keluar kata bahwa kamu ingin melepasku. Andai waktu bisa kuputar. Aku akan minta pada Tuhan, dipertemukan denganmu ketika aku siap dan telah menjadi sosok yang begitu tegar, sabar, dan dewasa dalam mencintaimu.
Terimakasih. Menjauhlah dari sekarang, tak usah lagi mengkhawatirkanku. Aku berjanji bahwa aku tak akan lagi menjadi perempuan yang ceroboh ketika memasak, ketika melakukan pekerjaan rumah. Tanganku tak akan lagi terkena cipratan minyak penggorengan. Sakitku yg sering kambuh tak akan menyusahkanmu lagi. Jadwal kuliah malamku, tak perlu lagi kamu mencemaskan siapa yang mengantarku pulang kerumah. Tak akan kamu temukan lagi wanita yang marah2 ketika rasa rindu menyapa, yang selalu bergantung dan hanya minta tolong kepadamu. Yang selalu bercerita tentang angan dan mimpinya. Yang hanya denganmu, wanita tersebut tak pernah merasakan beban, hanya ada tawa yang terukir di wajahnya. Kamu tidak akan lagi menemui semua hal menjijikkan yang membuatmu muak selama ini.
Dan teruntuk kamu, biasakan untuk minum sesudah makan. Biasakan untuk istirahat, dan jangan tidur terlalu larut malam. Dan jangan lupa untuk mengurut tubuhmu yg sudah teramat lelah menanggung semua beban yang dilimpahkan di pundakmu. Semangat. Akan ada wanita lain yang mampu membuat semua rasa lelahmu menjadi hilang hanya karna bertemu. Akan ada wanita yang mengerti kamu dengan utuh. Aku, wanita yang selalu mengusik hidupmu, mohon pamit. Mohon maaf atas semua salah dan khilaf yang kulakukan. Atas semua perkataanku yang sengaja dan tanpa sengaja menyakiti relung hatimu.
Kamu, selalu terpatri kuat di dalam hati dan pikiranku. Tak usah berteman setelah perpisahan ini. Melihat dan mengingatmu akan membuatku tambah begitu sakit. Menjauhlah, biarkan aku tersekap di dalam ruang dingin yang tak dapat terjangkau olehmu. Untuk kamu, bahagialah. Merdekalah. Dari semua rasa terbebani atas diriku.
Terimakasih.
Sabtu, 23:39
0 komentar:
Posting Komentar