Selasa, 26 April 2016

Cukup :)

Malam ini, masih seperti malam kemarin. Kurebakan tubuh ini di atas kasur, ku tatap langit2 kamar, masih sama, tidak ada yg berbeda, tidak ada yang berubah. Masih berwarna abu2 bercampur putih.

Sama, tidak ada yang berbeda juga dengan hubungan kita. Hampir sepekan, tidak ada kabar, tidak ada komunikasi, tidak ada lagi hal2 yang biasa kita lakukan. Pertemuan, mungkin minggu lalu adalah kali terakhirnya.

Apa yg salah ? Batinku berteriak. Menyeruak dan menggema di setiap sudut kamar ini. Sampai kapan ? Saling membisu seperti orang tunawicara. Saling tidak peduli seperti orang yg mati suri. Saling bungkam tanpa ada sepatah katapun terlontar
dari aku, ataupun kamu.

Jika dibilang aku betah dengan keadaan seperti ini, tidak sama sekali. Berbanding terbalik denganmu, kulihat kau nampak baik2 saja dan jauh lebih bahagia tanpa hadirnya aku. Bebanmu seperti berkurang, deritamu sepertinya hilang. Aku si batu karang, yang hanya diam membisu ketika ombak menerjang dengan ganasnya.
Tidak ada satupun pesanmu untuk menanyakan keadaanku. Tidak ada satupun panggilan atas nama dirimu tertera di layar handphoneku. Menyedihkan. Itulah kata yang paling tepat untukku saat ini. Jangankan diperhatikan, melirikpun kamu enggan.

Aku sadar, disini akulah yg meninggalkan. Aku tak berharap kamu kejar. Aku tak berharap kamu menarik tanganku, lalu memelukku dengan erat seperti yang ada di drama korea.

Aku harus siap dengan segala konsekuensi yang kulakukan. Atas segala rasa egoku yang mungkin sudah membuatmu bosan. Satu hal yang harus kau tahu saat itu, aku hanya merasa selalu menyusahkanmu dalam hal apapun. Aku hanya seperti benalu di kehidupanmu. Tak pernah membahagiakanmu, tak pernah mengurangi beban hidupmu. Aku hanya menambah berat semua keadaan. Dak kulihat jelas ada keterpaksaan atas semua hal yang aku kira dengan ikhlas kau berikan. Sampai saat ini, aku selalu berharap semoga itu hanya prasangkaku saja.

Andai saat ini, kamu ada di sampingku. Tidak, andai kamu ada di depanku, persis seperti posisi duduk kita yg selalu berhadapan, bukan berdampingan. Aku pasti akan lebih bisa melihat dengan jelas semuanya dari mataa coklatmu. Mataa yang saat ini sangat aku rindukan.

Andai memang perpisahan akan menjadi sebuah kisah yang tertulis di perjalanan kita, tak mengapa aku berusaha tegar. Aku tak pernah menyayangkan atas apa saja yg pernah terjadi diantara kita. Au percaya itu sudah dituliskan oleh yang kuasa. Aku bertemu denganmu, mengenalmu, dan dekat denganmu terntu bukan sebuah ketidaksengajaan. Ada turut campur tangan Tuhan atas aku dan kamu. Aku tak pernah menyesali jika perpisahan memang benar2 terjadi, yang sangat aku sesali ialah pernah berekspekti terlau tinggi tentang sebuah masa depan dan masa tuaku yang ingin ku habiskan bersamamu. Mimpi yang kita rangkai nyaris sempurna. Hanya takdir yang mampu merealisasikan semua angan dan mimpi kita.

Jauh darimu, mengajarkanku bagaimana caranya lebih menghargai setiap kebersamaan. Keadaan sepi dan kosong seperti ini sempat aku rasakan sebelum menemukanmu. Setelah menemukanmu, hatiku telah di penuhi dengan kunang2, yang jika malam tiba ia akan terbang dengan sinar dari tubuhnya. Indah bukan ? 

Tak ada yang bisa disalahkan, semua terjadi atas kehendak Tuhan. Aku dan kamu, telah mengukir kisah masing-masing di hati kita. Berpisah atau bersama, aku tak akan pernah lagi menyalahkan kedaan. Diam, sepi, sunyi, dan sendiri biarlah aku yg menikmati semua ini sendiri.

Jangan khawatirkan aku, khawatirkan dirimu. Tak usah mengasihaniku, aku terlalu banyak dikasihani. Terimakasih atas semua rasa iba yang kau berikan, atas semua rasa yg menurutku begitu dalam.
Kamu tetap menjadi bagian dalam hidupku, tetap abadi dalam tulisanku :)

26apr16 00:00

0 komentar: